Anak Autisme Juga Bisa Sukses

Menjadi orang tua bagi anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, memang penuh tantangan. Tak hanya dari anak, namun juga dari diri Anda sendiri dan lingkungan di sekitar anak. Salah satu hal yang kerap menjadi kekhawatiran banyak orang tua adalah soal kemandirian anak penyandang autisme di masa depan. Padahal, dengan pola pengasuhan terpadu, bukan hal yang tak mungkin anak penyandang autisme bisa mandiri, berprestasi, bahkan meraih kesuksesan.

Seperti dilansir dari autism.com, pakar spesialis autisme, Dr. Kenneth A. Bock MD, dari University of Rochester School of Medicine, AS, menjelaskan bahwa 7 dari 9 anak-anak penyandang autisme mengalami perkembangan yang bagus, jika diberikan pola pengasuhan yang baik dengan penuh kesabaran. Walaupun terlahir tidak seperti bayi normal lain, anak penyandang autisme memiliki kelebihan tersendiri.

Nah, 5 tokoh penyandang autisme di bawah ini bisa jadi inspirasi bagi Anda, sekaligus penambah semangat dalam membesarkan anak-anak penyandang autisme.

Satoshi Tajiri

Siapa yang tak kenal dengan tokoh animasi Pokemon? Dan ternyata, pencipta Pokemon termasuk berkebutuhan khusus, lho. Satoshi Ia dikenal sebagai desainer video game paling populer di dunia, Game Freak, Inc., yang menciptakan game secara eksklusif untuk Nintendo.

Meski dari kecil didiagnosis dengan sindrom Asperger, Satoshi telah tumbuh menjadi anak yang kreatif. Dikutip dariautismkey.com, Satoshi tidak menyukai sekolah, malah saat masih anak-anak, ia gemar mengumpulkan serangga. Hal inilah yang membuat kedua orangtuanya kecewa, karena mereka merasa bahwa Satoshi membuang masa depannya.

Padahal, ayahnya sudah menyuruh ia mempelajari bidang teknik listrik, tetapi ia tolak. Meski begitu, ia masih menyempatkan diri masuk sekolah teknik, dan di sana ia mempelajari seluk-beluk konslol game arkade. Dari sinilah ide membuat animasi Pokemon mulai muncul.

Oscar Yura Dompas

Meski didiagnosis autisme, penyandang autisme masih bisa melakukan banyak hal. Seperti, Oscar Yura Dompas. Penyandang autisme asal Indonesia ini berhasil meraih rekor MURI karena meeraih gelar sarjana dan menulis bukuAutistic Journey dan The Life of the Autistic Kid Who Never Gives Up. Buku itu ditulis dalam bahasa Inggris, dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Menaklukan Autis.

Lahir sebagai anak dengan autisme tak membuat Oscar minder. Cita-citanya tak mau kalah oleh anak-anak normal. Orang tua Oscar termasuk berani dan hebat dalam mendidik Oscar menjadi anak normal seumurannya. Mereka rajin mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan Oscar untuk perkembangan otaknya. Seiring perjalanan waktu, Oscar ternyata mempunyai bakat menulis yang bermanfaat bagi orang lain.

Jacob Barnett

Berkebutuhan khusus tak membuat Jacob putus asa begitu saja. Prestasi gemilangnya membuat ia menjadi anak berusia 14 tahun yang kuliar di Perimeter Institute for Theoretical Physics, Kanada, untuk meraih gelar Ph.D. dalam bidang fisika quantum.

Saat berusia dua tahun, Jacob didiagnosis memiliki autisme. Dokter pun mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia kemungkinan tak akan bisa bicara atau membaca. Namun kenyataan bicara lain. Dalam buku The Spark: A Mother’s Story of Nurturing Genius, Kristine, mama dari  Jacob, mengungkapkan bahwa Jacob tak kenal lelah menghadapi hari-hari melawan autisme yang ia sandang. Perjuangan Jacob dan sang mama pun mengantarkan ia kepada prestasi yang luar biasa.

Matt Savage

Matt lahir pada tahun 1992. Ia dikenal sebagai musisi autistic ssavant Amerika. Saat usia 3 tahun, Matt didiagnosis dengan gangguan perkembangan pervasif, bentuk lain dari autisme. Saat berusia 6 tahun, Matt belajar bermain piano sendiri. Matt terus mempelajari piano klasik selama kurang dari satu tahun, sampai akhirnya ia dikenal sebagai pianis jazz profesional. Matt merekam tiga CD audio yang kemudian ia sumbangkan untuk penelitian dan dukungan autisme. Dave Brubeck, yang dikenal sebagai ‘legenda jazz’, menyebut Matt sebagai ‘Mozart of Jazz’.

Temple Grandin

Temple adalah doktor asal Amerika yang menguasai ilmu hewan. Belum genap usia 3 tahun, Temple didiagnosis autisme, masalah perkembangan saraf kompleks yang membuat ia tidak mampu berhubungan sosial. Meski jatuh bangun melawan autisme, kini Temple justru berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan di Colorado State University. Tak hanya itu, ia juga berprofesi sebagai penulis, aktivis autisme, dan konsultan untuk industri peternakan. Pada tahun 2010, Temple termasuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *